Senin, 21 Oktober 2013

Mama Terhebatku

   Kiss the rain, begitulah judul musik instrumen-alunan denting piano-yang menemani hampir setiap saat kesendirianku. Meskipun otak ini tak bisa berfikir sesegar tanah yang diguyur hujan deras tadi sore,sulit untukku mencari celah waktu yang pas untuk merangkai paragraf demi paragraf,yaa..saat ini aku sedang belajar menulis,entah itu hanya sebatas catatan kecil tentang kabut tadi pagi,puisi tak berima,atau menuliskan sesuatu yang masih terselubung dalam benakku.
Begitu sulit rasanya kuungkap apa yang ada dalam pikiran,yang tak sinkron dengan suasana hati. Alunan musik yang membuatku berangan-angan, berimajinasi tentang sesuatu yang tak pasti,disaat aku menerima ucapan selamat dari sahabat-sahabatku karena buku pertamaku sudah terbit,sebuah buku tentang kehidupan,cinta bahkan tentang sosok mama terhebat di dunia. Melihat mamaku tersenyum dan wajah hitam manisnya itu dibasahi air mata bahagia,memelukku erat penuh kehangatan diiringi riuhnya tepuk tangan orang-orang disekitarku.

“selamat atas terbitnya buku pertamamu,nak. Selamat berkarya”
“ini semua juga berkat do’a dan support mama”
Begitu tinggi impianku untuk membuat orangtuaku bangga, meski tak jarang aku mengecewakannya. 


   Aku selalu menyiapkan satu pack tissue saat menulis sesuatu tentang mama, entah kekuatan apa yang memancar dari sosok sederhana,yang cinta kasih dan ketulusannya itu mampu menyingkirkan segala kerinduanku kepada siapapun,dan menempatkan mama yang pertama di hatiku. Aku tahu,mama selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Selalu disempatkannya bersujud di sepertiga malam,disaat aku dan adik-adikku tengah bermain dalam taman mimpi,mamaku berdoa untuk kebaikan dan kesuksesan anak-anaknya. Tak jarang kumelihat mama tidur lebih awal,setelah sholat isya sudah kudengar dengkurannya,betapa lelah mamaku mengurus rumah,menyajikan makanan dan mencuci baju hari ini. Beberapa jenis obat spray selalu berada di bawah bantal,jika dingin dan lelah menyapa,ditambah banyak pikiran tentang sekelumit  masalah,penyakit asma yang sudah dideritanya hampir sembilan tahun itu kambuh.

   Benar-benar aku sangat takut kehilangan mama,meski aku tahu usia itu adalah rahasia Tuhan,mama yang selalu mengerti aku,mendengar keluh kesahku,mampu menerima bagaimanapun kondisiku dan memaafkanku separah apapun salahku,hingga suatu saat aku tlah mngecewakannya. Tak bisa menjaga kepercayaannya.

      “mama bukan hanya orangtua yang melahirkanmu,tapi mama ingin jadi            seorang sahabat untukmu.curhatlah pada mama”
      “apakah mama dulu juga sedekat ini dengan eyang uti?”
      “sejak kecil,kehidupan mama itu keras. mama dilatih untuk hidup mandiri        dalam kesengsaraan, Mama tak bisa sebebas kamu untuk curhat,maka            dari itu,mama tahu bagaimana rasanya saat tiada kawan untuk berbagi          rasa”

ucapnya seraya menitikkan air mata,mungkin ia mengingat masa kecilnya,tak sepertiku yang bisa bersua dengan dunia luar,menikmati masa remaja di tengah modernisasi zaman,jika luput sedikit saja pengawasan orangtua,hancur sudah masa depannya.
  
  Bercermin dari dongeng-dongeng masa kecil mama,membuatku urung untuk mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah hanya untuk minum segelas kopi di cafe bersama teman-teman,harga yang sangat mahal untuk segelas kopi di jaman mamaku masih remaja,jangankan untuk membeli kopi,mama harus menghemat uangnya,untuk ongkos naik becak,dari pintu ke pintu melamar pekerjaan agar tak sepenuhnya meminta uang dari eyang uti yang memang didikannya sangat keras. mamaku tak pernah gengsi,berpenampilan ala kadarnya,asal sopan,mamaku berpakaian dan bersepatu dengan sederhana,apa yang ia punya ya itu yang dipakai. Aku juga tak jauh berbeda dengan mama,tapi aku berusaha menyisihkan uang jajanku untuk membeli beberapa wedges untuk menambah koleksiku dan baju-baju yang setidaknya tak dibilang jadul oleh kawan-kawanku. 
     “apakah aku kurang bersyukur ma?”
   “coba kamu kurangi kebiasaanmu berhura-hura seperti itu,disyukuri apa          yang ada. Masih mending kamu punya baju yang warna-warni,untuk ke            ulang tahun teman saja  Mama dulu sampai dipinjami tante Nita”
    “warna-warni bagaimana maksud mama?”
   “yaa bermacam-macam,modis dan tidak jadul seperti katamu” ucapnya   dengan senyum merekah di pipi.

    Mamaku sangat menghargai uang,bukan pelit,tapi irit. Menyisihkan walau sedikit uang sisa belanja hari ini,besok dan seterusnya untuk anak-anaknya yang merengek ingin dibelikan ini itu, bahkan membeli pakaian baru di moment lebaran pun,mama mengutamakan anak daripada dirinya. Pakaian lama masih pantas digunakan,meskipun warnanya sudah usang dan benang yang sudah menyemburat dimana-mana. Mamaku orang jujur,meski kadang menuai protes dari ibu-ibu PKK yang tak suka dengan laporan keuangan yang dirinci mamaku secara detail, yah itulah mereka yang kurang menghargai kejujuran. Seratus rupiahpun,jika masih ada sisa,mama mengembalikan dari melaporkan sesuai rinciannya. 

  Aku bangga dengannya. Sorot matanya bagaikan pelangi dalam jiwa,indah,membawa kesejukan,meskipun beberapa hari terakhir ini mamaku menbgeluh sakit matanya dan buram untuk melihat,menurut hasil periksa dokter, plus di matanya sudah 175, namun mama enggan untuk menebus resep obat untuk matanya,apalagi memesan sebuah kacamata untuknya.
 “harganya mahal.mama takut dimarahi papa,lagipula mama juga tidak bekerja,tidak begitu penting jika harus membeli kacamata” . begitulah katanya. 

   Semoga Tuhan memberi kesembuhan, aku rindu mendengar mama membaca ayat-ayat Al-qur’an. 
Begitu dalam cintanya,ucapannya kupercaya sebagai mantra,selalu melekat di hati dan aku percaya,doa mama itu selalu hadir dalam setiap hembus nafasku. Hatiku terbuka untuk mulai taat ibadah juga karena mama,tak lelah mengingatkanku untuk beribadah tiap waktu.

“ibadah itu yang istiqomah,bukan saat dapat masalah saja nak”

Aku rindu pelukannya,rindu dimanja seperti masa kecilku dulu,bahkan sampai saat ini mama selalu membuatkanku secangkir teh hangat di pagi hari,menyiapkan sarapan dan mencuci baju-bajuku. Oh mama, perempuan perkasa dan aku memanggilnya sebagai Mama terhebat di dunia.

2 komentar:

  1. ako hanyut dalam cerita indah yang kau tulis buat mama kamu yang mewakili para wanita hebat di dunia

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku baru belajar mas,kita punya Ibunda yang hebat,yang juga menjadikan kita hebat

      Hapus