Minggu, 10 Mei 2015

Kado Untuk Ibu

Hari Ulang tahun ibu kurang satu bulan lagi, namun belum juga kutemukan hadiah yang pas di hari bahagianya nanti. Meskipun sudah pukul setengah tiga pagi, mataku belum juga terpejam, mencari inspirasi untuk kumpulan cerpen sejak kemarin malam. Entahlah, aku punya rencana yang sebenarnya tidak begitu spesial untuk ibu. Sudah terkumpul beberapa cerpen dan puisi bertema IBU yang nantinya akan ku bukukan-insyaAllah-. Bersambul warna biru, dan berjudul Kado Untuk Ibu. Terlalu sederhana atau malah berlebihan? yang jelas aku ingin memberikan sesuatu yang sederhana namun bermakna untuknya.

Kerudung Merah Jambu



Malam semakin larut, namun belum juga aku mengantuk. Diselimuti suasana mellow dan dingin yang menusuk tulang karena hujan mengguyur seantero kota Malang dan sekitarnya. Rasanya ada sesuatu yang menggelayuti pikiranku, ditambah bahagia sekaligus heran saat mengingat perjumpaanku dengan Restu sore tadi. Ya.., setelah lebih dari empat tahun aku tak pernah bertemu dengan sahabatku itu. Restu, perempuan yang dulu membuatku penasaran dengan kediamannya. Namun sebenarnya di balik kediaman itu ada banyak kejutan dalam dirinya. Dia adalah sosok perempuan yang cuek, tak pernah menggubris gosip anak-anak ngeHits di SMA, lebih suka ngobrol dengan teman laki-laki di kelas sebelah, pernah dulu ia diberi julukan perawan sengit karena kejudesannya. Masih terbayang lambaian tangan dan senyum cerianya padaku, dengan penampilan yang mengejutkan, berpakaian necis, sepatu boots hitam, berkacamata hitam dan berkerudung merah jambu !

Selasa, 05 Mei 2015

Butiran Debu

"Akhirnya aku kembali, di blog ini. beberapa teman menyebutnya sebagai 'tempat sampah' atas kegalauan-kegalauanku di masa silam. hehe..
sesekali, bolehlah pakai satu judul lagu dari Rumor band yang sempat melejit kala itu.."

     Seperti butiran debu, entah kemana mereka membaur dengan tanah setelah bermil-mil jauhnya dihembuskan angin rahasia. Seperti tebaran-tebaran kisah masa lalu yang penuh haru. mungkin saja seperti dentuman kekecewaan yang kemudian menyebar menjadi butiran-butiran rindu. ah.., kurasa bukan rindu, tapi sayatan pilu. Ya..... dua tahun berlalu, aku menghilang mencari ketengan, kututup semua akun sosial mediaku, bermain-main dengan imajinasi di tempat baru, bertemu kawan baru, pengalaman dan semangat baru.
satu lagi, kekasih baru.

Kamis, 12 Desember 2013

Kamis pon,31.10. 2013



Hollaaaaa pak,mas..gimana kabarnya?
sapaku pada pak Hendrix dan mas Edwin ketika memasuki ruang keluarga di tempat pernah aku bekerja,aku menyebutnya demikian karena di ruang itulah aku sering berkumpul dengan crew yang selalu memberiku support sejak pertama kali latihan hingga akhirnya aku menjadi bagian dari keluarga besar Tidar Sakti FM. Ya.. malam itu, Kamis pon 31 Oktober 2013 ditemani mama dan si gundul Edo,adikku bukan lagi menjadi malam yang seru seperti biasanya aku membawakan progam Zona Muda sampai jam sembilan malam,tapi kedatanganku adalah untuk say goodbye pada rekan-rekan kerja dan sahabat pendengar. 

Senin, 28 Oktober 2013

Imaginary Boyfriend (Khaled-Algeria edition)

“Don’t cry honey,InsyaAllah I’ll be back to meet you here”
“I’m so sad,I met you three days ago,and now you leave me, back to Algeria.
Will you come to Indonesia someday?”
“Believe me,I’ll always miss you”


    I’m try to keep calm and say goodbye to him,Khaled,my imagination boyfriend from Algeria, I’ve found his account in Alabama English Club,theres we can learn more about English,sharing and I have a lot of friends,many kinds of people from foreign country. Me and Khaled always shared,talked about religion,politic and culture each of aour country,using English. 

Jumat, 25 Oktober 2013

Bombom sahabatku,aku rindu

       Rasa jenuh dan resah seolah berlomba dengan riuhnya suara rintik hujan sore ini,selalu begini..dulu,aku sangat gembira ketika awan-awan mendung menumpahkan air dan menyejukkan seisi alam,

Rabu, 23 Oktober 2013

Gambar di Dinding itu Seolah Bicara

Belaian angin seolah menyapa kesedihanku
Kesedihan,kerinduan pada sahabat-sahabatku
Masih saja rindu ini terkepung dalam kamar pengapku
Poster-poster tak berlidah di dinding  itu seolah mengajakku bicara