Minggu, 10 Mei 2015

Kerudung Merah Jambu



Malam semakin larut, namun belum juga aku mengantuk. Diselimuti suasana mellow dan dingin yang menusuk tulang karena hujan mengguyur seantero kota Malang dan sekitarnya. Rasanya ada sesuatu yang menggelayuti pikiranku, ditambah bahagia sekaligus heran saat mengingat perjumpaanku dengan Restu sore tadi. Ya.., setelah lebih dari empat tahun aku tak pernah bertemu dengan sahabatku itu. Restu, perempuan yang dulu membuatku penasaran dengan kediamannya. Namun sebenarnya di balik kediaman itu ada banyak kejutan dalam dirinya. Dia adalah sosok perempuan yang cuek, tak pernah menggubris gosip anak-anak ngeHits di SMA, lebih suka ngobrol dengan teman laki-laki di kelas sebelah, pernah dulu ia diberi julukan perawan sengit karena kejudesannya. Masih terbayang lambaian tangan dan senyum cerianya padaku, dengan penampilan yang mengejutkan, berpakaian necis, sepatu boots hitam, berkacamata hitam dan berkerudung merah jambu !
          Mungkin bagi para fashionista masa kini, penampilan seperti itu adalah hal yang biasa saja. Namun bagiku sangat mengejutkan. Sungguh berbanding terbalik 180 derajat dengan penampilan Restu yang kukenal saat kelas X dulu. Ia selalu tampil sangat rapi-mendekati culun malah- , dasi terikat sampai kancing baju paling atas, ikat pinggang terikat erat di atas pusar, panjang rok di bawah lutut, kaos kaki panjang, dan bersepatu hitam yang tak pernah neko-neko seperti penampilan anak-anak ngeHits di SMA kami dulu. Ya, memang sekolah favorit, maklum saja selain ada persaingan prestasi, persaingan penampilan juga jadi hal utama, untuk menunjukkan kelas sosial mereka. Namun Restu sedikitpun tak terpengaruh dengan tingkah polah dengan bermacam gaya dan tampil seadanya. Mungkin juga karena sama sepertiku, tak punya apa-apa untuk disombongkan dan dipamerkan.

        Setelah lulus SMA kudengar ia menjadi seorang penyiar radio, kehidupannya sedikit berubah, mulai berani mencoba hal-hal baru dan bercita-cita menjadi seorang foto model, katanya. namun ia tetap menjadi sahabatku yang setia. Tempatku berkeluh kesah dan ia ada saat aku senang maupun susah.

 “kamu nggak usah takut aku ninggalin kamu Wid, kayak apaan aja sih yang namanya sahabat, sampai kapanpun juga tetep sahabat”

“tapi kan kamu sekarang sudah terkenal, banyak teman, banyak penggemar, mulai penjual mi ayam sampai kontraktor”

“halaaaa.....lebaay” begitulah ia menjawabnya. 

         Beberapa waktu yang lalu ia sempat membrutal, ia frustasi dan berkali-kali putus cinta. Memang tak ada yang bisa menyangka setiap perubahan pada dirinya. Ia mulai berani mengecat rambut, nongkrong ngopi sampe larut malam , menghabiskan waktu di galeri, ganti-ganti pacar, karaoke dan beberapa niat buruk yang tak (untungnya) tak terlaksana. Semua itu ungkapan kekecewaan dan pelampiasannya. Sebagai sahabat aku hanya bisa mengingatkan dan mendoakan.
“as you know Wid, everybody changing, and we’ll never know it” 
Restu pernah mengatakan itu padaku dengan menangis tersedu, sebelum akhirnya pingsan di pelukanku. 

        Mungkin saja kali ini Allah benar-benar memberikan ilham dan hidayah padanya, bukan semata perintah dari kekasih yang dicintainya, kemudian melepas hijabnya setelah kata pisah. Aku tahu, memulai sesuatu yang baru dalam kebaikan itu tak semudah mencoba hal-hal buruk. Butuh niat, usaha ekstra dan dukungan orang-orang terdekat.

“jangan memujiku cantik, nanti aku nggak ikhlas nih kerudungannya. Ini kerudung pertamaku. Kado dari calon suamiku. Aku mau belajar berhijab Wid, ikhlas dari hati. Tapi juga karena biar dia makin cinta sih”

        Ia masih tetap seperti yang dulu, cerewet dan selalu ceria (meskipun kadang hanya berpura-pura. Untuk menyembunyikan kesedihannya). Tadi sore, sedikit ia bercerita tentang kisah cintanya. Ia sedang menjalin hubungan cinta dengan seorang fotografer bernama Hidawan, mas Wawan, begitulah ia menyebutnya. Memang mas Wawan bertipikal keras, disiplin, namun di balik itu semua, mas Wawan adalah orang yang ramah dan bijaksana. Entah apa yang membuatnya begitu cinta dan yakin bahwa beberapa tahun lagi mas Wawan akan meminangnya. 

“sudah berkali-kali keseriusanku ini berujung kekecewaan, do’ain aku ya Wid semoga kali ini benar-benarrr yang terakhir. .”  
 matanya berkaca-kaca, seraya ia menggenggam tanganku.

“Pasti aku doakan yang terbaik untukmu kawan, kerudung merah jambumu adalah awal untuk membuka niat baikmu. Bisa ikhlas menutup aurat dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kutunggu undangan pernikahanmu dengan mas Wawan, jadilah istri yang setia, soleha dan bisa memalingkan mata suamimu dari godaan wanita-wanita liar di sekelilingnya”

     Sudah pukul dua dini hari, sepertinya aku harus segera membaringkan diri. Tak sengaja aku menitikkan air mata, mengingat segala suka duka yang kulewati bersama Restu sejak di bangku SMA, lengkap dengan segala perubahan fisik dan perilakunya. Restu..semoga Allah benar-benar merestui dan merindhoi jalanmu dengan kerudung merah jambumu itu, kerudung pertamamu. Serta seseorang yang kau cinta, hingga menjadi pendampingmu di surga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar