Malam semakin larut, namun belum
juga aku mengantuk. Diselimuti suasana mellow dan dingin yang menusuk tulang karena
hujan mengguyur seantero kota Malang dan sekitarnya. Rasanya ada sesuatu yang
menggelayuti pikiranku, ditambah bahagia sekaligus heran saat mengingat
perjumpaanku dengan Restu sore tadi. Ya.., setelah lebih dari empat tahun aku
tak pernah bertemu dengan sahabatku itu. Restu, perempuan yang dulu membuatku
penasaran dengan kediamannya. Namun sebenarnya di balik kediaman itu ada banyak
kejutan dalam dirinya. Dia adalah sosok perempuan yang cuek, tak pernah
menggubris gosip anak-anak ngeHits di
SMA, lebih suka ngobrol dengan teman
laki-laki di kelas sebelah, pernah dulu ia diberi julukan perawan sengit karena kejudesannya. Masih terbayang lambaian tangan
dan senyum cerianya padaku, dengan penampilan yang mengejutkan, berpakaian
necis, sepatu boots hitam, berkacamata hitam dan berkerudung merah jambu !
Mungkin bagi para fashionista
masa kini, penampilan seperti itu adalah hal yang biasa saja. Namun bagiku
sangat mengejutkan. Sungguh berbanding terbalik 180 derajat dengan penampilan
Restu yang kukenal saat kelas X dulu. Ia selalu tampil sangat rapi-mendekati
culun malah- , dasi terikat sampai kancing baju paling atas, ikat pinggang
terikat erat di atas pusar, panjang rok di bawah lutut, kaos kaki panjang, dan
bersepatu hitam yang tak pernah neko-neko seperti penampilan anak-anak ngeHits
di SMA kami dulu. Ya, memang sekolah favorit, maklum saja selain ada persaingan
prestasi, persaingan penampilan juga jadi hal utama, untuk menunjukkan kelas
sosial mereka. Namun Restu sedikitpun tak terpengaruh dengan tingkah polah
dengan bermacam gaya dan tampil seadanya. Mungkin juga karena sama sepertiku,
tak punya apa-apa untuk disombongkan dan dipamerkan.
Setelah lulus SMA kudengar ia
menjadi seorang penyiar radio, kehidupannya sedikit berubah, mulai berani mencoba hal-hal baru dan bercita-cita menjadi seorang foto model, katanya. namun ia tetap
menjadi sahabatku yang setia. Tempatku berkeluh kesah dan ia ada saat aku
senang maupun susah.
“kamu nggak usah takut aku ninggalin
kamu Wid, kayak apaan aja sih yang namanya sahabat, sampai kapanpun juga tetep
sahabat”
“tapi kan kamu sekarang sudah terkenal, banyak teman, banyak penggemar,
mulai penjual mi ayam sampai kontraktor”
“halaaaa.....lebaay” begitulah ia menjawabnya.
Beberapa waktu yang lalu ia
sempat membrutal, ia frustasi dan berkali-kali putus cinta. Memang tak ada yang
bisa menyangka setiap perubahan pada dirinya. Ia mulai berani mengecat rambut,
nongkrong ngopi sampe larut malam , menghabiskan waktu di galeri, ganti-ganti
pacar, karaoke dan beberapa niat buruk yang tak (untungnya) tak terlaksana. Semua
itu ungkapan kekecewaan dan pelampiasannya. Sebagai sahabat aku hanya bisa mengingatkan
dan mendoakan.
“as you know Wid, everybody changing, and we’ll never know it”
Restu pernah mengatakan itu padaku dengan menangis tersedu, sebelum akhirnya
pingsan di pelukanku.
Mungkin saja kali ini Allah
benar-benar memberikan ilham dan hidayah padanya, bukan semata perintah dari
kekasih yang dicintainya, kemudian melepas hijabnya setelah kata pisah. Aku tahu,
memulai sesuatu yang baru dalam kebaikan itu tak semudah mencoba hal-hal buruk.
Butuh niat, usaha ekstra dan dukungan orang-orang terdekat.
“jangan memujiku cantik, nanti
aku nggak ikhlas nih kerudungannya. Ini kerudung pertamaku. Kado dari calon
suamiku. Aku mau belajar berhijab Wid, ikhlas dari hati. Tapi juga karena biar
dia makin cinta sih”
Ia masih tetap seperti yang dulu,
cerewet dan selalu ceria (meskipun kadang hanya berpura-pura. Untuk menyembunyikan
kesedihannya). Tadi sore, sedikit ia bercerita tentang kisah cintanya. Ia sedang
menjalin hubungan cinta dengan seorang fotografer bernama Hidawan, mas Wawan,
begitulah ia menyebutnya. Memang mas Wawan bertipikal keras, disiplin, namun di
balik itu semua, mas Wawan adalah orang yang ramah dan bijaksana. Entah apa
yang membuatnya begitu cinta dan yakin bahwa beberapa tahun lagi mas Wawan akan
meminangnya.
“sudah berkali-kali keseriusanku
ini berujung kekecewaan, do’ain aku ya Wid semoga kali ini benar-benarrr yang
terakhir. .”
matanya berkaca-kaca,
seraya ia menggenggam tanganku.
“Pasti aku doakan yang terbaik
untukmu kawan, kerudung merah jambumu adalah awal untuk membuka niat baikmu. Bisa
ikhlas menutup aurat dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kutunggu undangan
pernikahanmu dengan mas Wawan, jadilah istri yang setia, soleha dan bisa
memalingkan mata suamimu dari godaan wanita-wanita liar di sekelilingnya”
Sudah pukul dua dini hari, sepertinya
aku harus segera membaringkan diri. Tak sengaja aku menitikkan air mata, mengingat
segala suka duka yang kulewati bersama Restu sejak di bangku SMA, lengkap
dengan segala perubahan fisik dan perilakunya. Restu..semoga Allah benar-benar
merestui dan merindhoi jalanmu dengan kerudung merah jambumu itu, kerudung pertamamu.
Serta seseorang yang kau cinta, hingga menjadi pendampingmu di surga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar