Kamis, 17 Oktober 2013

Maaf yang Terlambat

Di sudut kamar aku termenung,kali ini bukan mencari inspirasi menulis cerpen seperti biasanya.namun masih bertanya-tanya atas pikiran yang gusar dan hati yang gundah beberapa hari terakhir ini,bukan karena putus cinta atau kehabisan uang jajan. Ah sudahlah,mungkin hanya perasaanku saja. Semilir hawa dingin yang melengkapi langit mendung sore ini membelaiku hingga terlelap,menyapa mimpi dalam tidur siang yang tertunda.


“Mbak,bangun! Ayo cepat,kita harus segera ke Surabaya eyang uti kritis”  suara mama membuyarkan mimpiku,tak biasanya membangunkanku dengan suara sekeras itu.
“apa ma? Roti gratis? Mana mana...?”
“uyang utimu itu lo kritis! Mana ada roti gratis. Udah cepetan kemas-kemas,gausah bawa baju banyak-banyak.kita langsung ke rumah sakit”
“Hah,yang uti kritiis?? Wuaduh duh duh.. gashhwat ini” . Beberapa bulan terakhir memang keadaannya sering drop,penyakit komplikasi yang dideritanya membuat mama sering meninggalkan rumah berbulan-bulan untuk merawat eyang uti di rumah sakit. Sebenarnya enggan jika harus ikut ke Surabaya,mengingat perjalanan jauh,capek,belum lagi buku-buku tugas sekolah yang menanti sentuhanku.
“Ma,aku gak ikut deh ya,nunggu rumah aja. Tugas skolahku numpuk nih” aku mencoba merayu mama.
“sudahlah mbak,ayo ikut aja lagian kan besok hari minggu. Kamu cucu kesayangan uti,kalau ada apa-apa,nanti kamu menyesal loh”  jawaban mama semakin membuat hatiku tak tenang,mungkin tak ada salahnya jika aku ikut serta.
“yaudah aku ikut,tapi naik motor ya ma”
“kamu yakin naik motor? Udah mau hujan loh”
“aah..mama kan aku rider ma..jangan kawatir,panas hujan kuterjang semua.hahaha ” jawabku sedikit dengan nada bercanda.

Akhirnya sore itu aku sekeluarga berangkat ke Surabaya dengan hati yang tak tenang,memang ini bukan kabar pertama tentang kesehatan eyang yang kritis,wajar saja jika mamaku sebagai anak tunggal sangat cemas, harus mondar-mandir naik kendaraan umum dari Batu ke Surabaya untuk mengurus orang tua serta keluarga kecil di desa. oh Tuhan semoga ini bukan pertanda buruk. Masih teringat sepuluh hari yang lalu eyang uti sempat menginap di rumahku,dan memang  dalam keadaan sakit,apalagi  sudah tua jadi ingin selalu diperhatikan dan dimanja,kadang sifat pikunnya menggelitik perut kadang juga membuatku kesal.
              ..::::..
            Hujan turun dengan derasnya, sesekali suara petir menyambar memekakkan telinga, sebenarnya aku juga ragu mampu menerjang medan seperti saat ini, lampu motor tak dapat menembus tebalnya kabut,tubuhku menggigil meski sudah mengenakan dua lapis jaket tebal. Di tengah perjalanan,mulutku bungkam,tak sepatah kata ku berbincang dengan  papa,meski hanya membahas  pertandingan sepak bola kemarin malam,atau guyonan garing tentang siapa yang meminum kopi milik papa tadi sore. Bibirku bergetar menahan dinginnya malam,perjalanan terasa amat jauh. Hingga tak kusadari bensin hampir saja habis,karena aku berkosentrasi penuh dengan keadaan jalan raya dan sesegera mungkin bisa sampai rumah. Setelah mendapatkan bensin dari sebuah SPBU,kupacu laju motorku 80km/jam, berikan keselamatan untukku dan Apa yang akan terjadi nanti ya Tuhan,berikan aku kekuatan.
                                                                         ..::::..
            Darahku berdesir ketika melihat bendera putih usang dengan tanda palang hitam di tengahnya seolah melambai di muka gang.  Aku semakin meracau memasuki rumah,kulihat sebuah jasad yang telah terbujur kaku,dalam hati ku meyakinkan diri bahwa ia bukan eyangku,bukan orang yang sempat ku bentak lima hari yang lalu. Ku beranikan diri menapakkan langkah lebih dekat dan membuka kain batik (jarik) di genggamanku,oh Tuhan…sesak dadaku,aku tersentak namun tak kuasa ku menitikkan air mata. Terselip sebuah penyesalan,maaf yang tertunda kini sudah terlambat,eyang sudah tiada padahal belum juga aku meminta maaf atas segala salahku padanya. Nada tinggiku yang buatnya menangis,bentakanku yang buatnya mengelus dada, serta kelakuanku pura-pura tak mendengar  suara seraknya untuk mengantar ke kamar mandi,namun aku sadar bahwa semua SUDAH TERLAMBAT. Aku bersimpuh di dhadapannya,kulantunkan ayat-ayat Al-Qur’an meski sesak di dada . Hingga tujuh hari berlalu aku masih tak percaya, “La…illa ha illallah” lafad itu kuucapkan berkali-kali,air mataku mengucur deras,Tiada Tuhan selain Allah,Ia lah yang berkehendak dan aku tak mampu menunda kehendaknya,meski hanya sejenak untuk memohon maaf pada eyang.
                                                                           ..::::..
            Hampir setiap tidur mimpi buruk yang selalu menghantui, entah mimpi ini hadir karena ketakutannku,kerinduanku  ataukah dari rasa penyesalanku selama ini yang sudah sia-siakan sesosok wanita tua renta yang dulu selalu memanjakan aku.
“Lho,eyang kok disini? Kamu siapa? Bukankah eyang sudah meninggal? “  aku bertanya pada nenek tua yang duduk di kasur kamarku,ia seperti nenekku. Dan mimpi ini seolah nyata.
“Belum,eyang belum meninggal. Aku nenekmu. “ jawabnya singkat
“ah…jika memang iya,coba sebutkan
makanan favoritku
kamu lahap sekali kalau yang ti masak semur ayam gitu lo,minta disuapin juga “o..iya benar kamu nenekku,eyang aku minta maaf ya atas semuanya” aku menunduk dan mulai menitikkan air mata. Namun eyang hanya tersenyum dan seketika itu aku terbangun dari mimpiku,
kenapa belum tidur? Galau? Insomnia lagi? Atau mimpi setan? Mangkanya berdoa dulu sebelum tidur    nampaknya papa terbangun dan mendengar suara isak tangisku,sambil menggoyang-goyangkan kakiku aku terbangun seraya mengusap air mataku.
“aku mimpi eyang uti pa,kenapa ya.. apa eyang marah  karena aku suah kurang ajar padanya? Atau eyang belum memaafkanku?
“hush..tidak boleh berkata seperti itu,eyang sudah tenang di alamnya ris. Itu hanya perasaanmu saja,sudahlah..kamu harus merelakan,berdo’a untuk beliau agar diampuni dosa-dosanya”
kenapa aku baru sadar?!  Cuma eyang orang tempatku mengadu,minta uang,minta baju baru,hura-hura,bahkan orang yang selalu kutuju jika mama memarahiku,tapi kenapa aku selalu pura-pura tidur saat eyang minta dipijit betisnya,selalu sibuk sendiri saat diminta untuk menemaninya” air mataku berderai,namun sudah tak berarti.namun apakah senyuman yang mengembang di pipinya tadi berarti eyang sudah memaafkan aku?           
          
  Hampir setiap hari aku melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk seorang nenek yang kusayang hingga larut malam. Hingga tak mampu membelalakkan mata ini untuk membaca selarik ayat lagi,aku pun tertidur dan aku berharap bermimpi bertemu dengan eyang uti. umur milik Tuhan,tak tahu apakah kita masih bisa bertemu lagi di lain hari dengan orang yang sangat kita sayangi,ataukah pertemuan itu merupakan pertemuan yang terakhir.Canda tawa,marah,atau ucapan saja bisa menjadi kenangan   yang kadang bisa membuat orang lain tersinggung,jengkel bahkan hingga mengucapkan sumpah,Jika tidak segera minta maaf  dan AKHIRNYA tak dapat bersua kembali (pertemuan terakhir) timbullah rasa penyesalan dari kata maaf yang tertunda hingga akhirnya terlambat untuk diucapkan..
            Terngiang nasehat eyang dalam setiap diamku,bahwa lakukanlah sesuatu selagi kita mampu melakukannya,dan jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi,karena sesal kemudian tiada berguna. Aku tersenyum dan berkata dalam hati..
“maafkan aku yang telah terlambat meminta maaf padamu,padahal aku masih mampu melakukannya,dan kini untuk apa aku menyesal dengan perbuatanku sendiri,terimakasih atas nasehat yang kau beri..”                  

6 komentar:

  1. dasar si riris ini, ad kbar duka sek kober aj bcandax.. hehe...aq trut brduka ris atas kpergian blio. smoga amal ibdahx dtrima di sisiNya.. km sbg cu2 yg trsyang jgn bosen2 doain yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha,this is real bro.....
      amin,terimakasih untuk doanya,dan semoga eyang uti bisa tersenyum di surga

      Hapus
  2. kisah nyata yang pernah ako alami. Moga orang yang kita sayang yang sudah tiada diterima disisiNya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya,dan kau tahu.. rasa sesal itu sampai sekarang masih ada.
      amin....

      Hapus
  3. turut berduka ya dek....semoga eyang uti di terima & mendapatkan tempat yg terindah disisnya..Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya makasih mas,mbak,om,tante,pak,bu..
      amiiiin

      Hapus