Di sudut kamar aku termenung,kali ini bukan mencari
inspirasi menulis cerpen seperti biasanya.namun masih bertanya-tanya atas
pikiran yang gusar dan hati yang gundah beberapa hari terakhir ini,bukan karena
putus cinta atau kehabisan uang jajan. Ah sudahlah,mungkin hanya perasaanku
saja. Semilir hawa dingin yang melengkapi langit mendung sore ini membelaiku
hingga terlelap,menyapa mimpi dalam tidur siang yang tertunda.
“Mbak,bangun! Ayo cepat,kita harus segera ke Surabaya
eyang uti kritis” suara mama membuyarkan
mimpiku,tak biasanya membangunkanku dengan suara sekeras itu.
“apa ma? Roti gratis? Mana mana...?”
“uyang utimu itu lo kritis! Mana ada roti gratis. Udah
cepetan kemas-kemas,gausah bawa baju banyak-banyak.kita langsung ke rumah
sakit”
“Hah,yang uti kritiis?? Wuaduh duh duh.. gashhwat ini” .
Beberapa bulan terakhir memang keadaannya sering drop,penyakit komplikasi yang
dideritanya membuat mama sering meninggalkan rumah berbulan-bulan untuk merawat
eyang uti di rumah sakit. Sebenarnya enggan jika harus ikut ke
Surabaya,mengingat perjalanan jauh,capek,belum lagi buku-buku tugas sekolah
yang menanti sentuhanku.
“Ma,aku gak ikut deh ya,nunggu rumah aja. Tugas skolahku
numpuk nih” aku mencoba merayu mama.
“sudahlah mbak,ayo ikut aja lagian kan besok hari minggu.
Kamu cucu kesayangan uti,kalau ada apa-apa,nanti kamu menyesal loh” jawaban mama semakin membuat hatiku tak
tenang,mungkin tak ada salahnya jika aku ikut serta.
“yaudah aku ikut,tapi naik motor ya ma”
“kamu yakin naik motor? Udah mau hujan loh”
“aah..mama kan aku rider ma..jangan kawatir,panas hujan kuterjang semua.hahaha ”
jawabku sedikit dengan nada bercanda.
Akhirnya sore itu aku sekeluarga berangkat ke Surabaya
dengan hati yang tak tenang,memang ini bukan kabar pertama tentang kesehatan
eyang yang kritis,wajar saja jika mamaku sebagai anak tunggal sangat cemas,
harus mondar-mandir naik kendaraan umum dari Batu ke Surabaya untuk mengurus
orang tua serta keluarga kecil di desa. oh Tuhan semoga ini bukan pertanda
buruk. Masih teringat sepuluh hari yang lalu
eyang uti sempat menginap di rumahku,dan memang
dalam keadaan sakit,apalagi sudah
tua jadi ingin selalu diperhatikan dan dimanja,kadang sifat pikunnya
menggelitik perut kadang juga membuatku kesal.
..::::..
Hujan turun dengan derasnya,
sesekali suara petir menyambar memekakkan telinga, sebenarnya aku juga ragu
mampu menerjang medan seperti saat ini, lampu motor tak dapat menembus tebalnya
kabut,tubuhku menggigil meski sudah mengenakan dua lapis jaket tebal. Di tengah
perjalanan,mulutku bungkam,tak sepatah kata ku berbincang dengan papa,meski hanya membahas pertandingan sepak bola kemarin malam,atau
guyonan garing tentang siapa yang meminum kopi milik papa tadi sore. Bibirku
bergetar menahan dinginnya malam,perjalanan terasa amat jauh. Hingga tak
kusadari bensin hampir saja habis,karena aku berkosentrasi penuh dengan keadaan
jalan raya dan sesegera mungkin bisa sampai rumah. Setelah mendapatkan bensin dari sebuah SPBU,kupacu
laju motorku 80km/jam,
berikan keselamatan untukku dan Apa yang akan terjadi
nanti ya Tuhan,berikan aku kekuatan.
..::::..
Darahku berdesir ketika melihat bendera
putih usang dengan tanda palang hitam di tengahnya seolah melambai di muka gang. Aku semakin meracau memasuki rumah,kulihat
sebuah jasad yang telah terbujur kaku,dalam hati ku meyakinkan diri bahwa ia
bukan eyangku,bukan orang yang sempat ku bentak lima hari yang lalu. Ku
beranikan diri menapakkan langkah lebih dekat dan membuka kain batik (jarik) di
genggamanku,oh Tuhan…sesak dadaku,aku tersentak namun tak kuasa ku menitikkan
air mata. Terselip sebuah penyesalan,maaf yang tertunda kini sudah
terlambat,eyang sudah tiada padahal belum juga aku meminta maaf atas segala
salahku padanya. Nada tinggiku yang buatnya menangis,bentakanku yang buatnya
mengelus dada, serta kelakuanku pura-pura tak mendengar suara seraknya untuk mengantar ke kamar
mandi,namun aku sadar bahwa semua SUDAH TERLAMBAT. Aku bersimpuh di
dhadapannya,kulantunkan ayat-ayat Al-Qur’an
meski sesak di dada . Hingga tujuh hari berlalu
aku masih tak percaya, “La…illa ha illallah” lafad itu kuucapkan berkali-kali,air
mataku mengucur deras,Tiada Tuhan selain Allah,Ia lah yang berkehendak dan aku
tak mampu menunda kehendaknya,meski hanya sejenak untuk memohon maaf pada
eyang.
..::::..
Hampir
setiap tidur mimpi buruk yang selalu menghantui,
entah mimpi ini hadir karena ketakutannku,kerinduanku
ataukah dari
rasa penyesalanku selama ini yang sudah sia-siakan sesosok wanita tua renta
yang dulu selalu memanjakan
aku.
“Lho,eyang
kok disini? Kamu siapa? Bukankah eyang sudah meninggal? “ aku bertanya pada nenek tua yang duduk di
kasur kamarku,ia seperti nenekku. Dan mimpi ini seolah nyata.
“Belum,eyang
belum meninggal. Aku nenekmu. “ jawabnya singkat
“ah…jika memang iya,coba sebutkan makanan favoritku”
“ah…jika memang iya,coba sebutkan makanan favoritku”
“kamu lahap sekali kalau yang ti masak semur ayam gitu
lo,minta disuapin juga” “o..iya benar kamu
nenekku,eyang aku minta maaf ya atas semuanya” aku menunduk dan mulai
menitikkan air mata. Namun eyang hanya tersenyum dan seketika itu aku terbangun
dari mimpiku,
“kenapa belum tidur? Galau? Insomnia lagi? Atau mimpi setan? Mangkanya berdoa
dulu sebelum tidur”
nampaknya papa terbangun dan mendengar suara isak
tangisku,sambil menggoyang-goyangkan kakiku aku terbangun seraya mengusap air
mataku.
“aku
mimpi eyang uti pa,kenapa ya.. apa eyang marah karena aku suah kurang ajar padanya? Atau eyang belum memaafkanku?”
“hush..tidak
boleh berkata seperti itu,eyang sudah tenang di alamnya ris. Itu hanya
perasaanmu saja,sudahlah..kamu harus merelakan,berdo’a untuk beliau agar
diampuni dosa-dosanya”
“kenapa aku baru sadar?! Cuma eyang orang tempatku
mengadu,minta uang,minta baju baru,hura-hura,bahkan orang yang selalu kutuju
jika mama memarahiku,tapi kenapa aku
selalu pura-pura tidur saat eyang minta dipijit betisnya,selalu sibuk sendiri
saat diminta untuk menemaninya” air mataku berderai,namun sudah tak
berarti.namun apakah senyuman yang mengembang di pipinya tadi berarti eyang
sudah memaafkan aku?
Hampir setiap hari aku melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk seorang nenek yang kusayang hingga larut malam. Hingga tak mampu membelalakkan mata ini untuk membaca selarik ayat lagi,aku pun tertidur dan aku berharap bermimpi bertemu dengan eyang uti. umur milik Tuhan,tak tahu apakah kita masih bisa bertemu lagi di lain hari dengan orang yang sangat kita sayangi,ataukah pertemuan itu merupakan pertemuan yang terakhir.Canda tawa,marah,atau ucapan saja bisa menjadi kenangan yang kadang bisa membuat orang lain tersinggung,jengkel bahkan hingga mengucapkan sumpah,Jika tidak segera minta maaf dan AKHIRNYA tak dapat bersua kembali (pertemuan terakhir) timbullah rasa penyesalan dari kata maaf yang tertunda hingga akhirnya terlambat untuk diucapkan..
Terngiang nasehat eyang dalam setiap
diamku,bahwa lakukanlah sesuatu selagi kita mampu melakukannya,dan jangan
pernah menyesali apa yang sudah terjadi,karena sesal kemudian tiada berguna.
Aku tersenyum dan berkata dalam hati..
“maafkan
aku yang telah terlambat meminta maaf padamu,padahal aku masih mampu
melakukannya,dan kini untuk apa aku menyesal dengan perbuatanku sendiri,terimakasih
atas nasehat yang kau beri..”

dasar si riris ini, ad kbar duka sek kober aj bcandax.. hehe...aq trut brduka ris atas kpergian blio. smoga amal ibdahx dtrima di sisiNya.. km sbg cu2 yg trsyang jgn bosen2 doain yaa
BalasHapushaha,this is real bro.....
Hapusamin,terimakasih untuk doanya,dan semoga eyang uti bisa tersenyum di surga
kisah nyata yang pernah ako alami. Moga orang yang kita sayang yang sudah tiada diterima disisiNya. Aamiin
BalasHapusiya,dan kau tahu.. rasa sesal itu sampai sekarang masih ada.
Hapusamin....
turut berduka ya dek....semoga eyang uti di terima & mendapatkan tempat yg terindah disisnya..Amin
BalasHapusiya makasih mas,mbak,om,tante,pak,bu..
Hapusamiiiin